PERAN MASJID YANG TERLUPAKAN Oleh: Ahmad Fauzan, S.Pd.I*

Dalam Islam Masjid memiki peran sebagai pusat aktivitas dakwah. Ketika masjid dibangun dan berdiri, maka masjid itu tidak boleh melepaskan dan meninggalkan peran ini, yaitu sebagai pusat dakwah. Al-Buthiy dalam bukunya Fiqh al-Siirah menyebutkan bahwa mendirikan masjid merupakan hal yang paling mula-mula dan yang paling penting dalam membangun sebuah masyarakat Islami. Ini tidak lain karena masyarakat muslim hanya akan terbentuk dengan cara memegang teguh nizham Islam, yang kesemuanya itu tidak lain bersumber dari masjid. Kemudian hal ini ditegaskan oleh Imam Shan’ani dalam kitab Subulu al-Salam bahwa kemulian dan kedaulatan Islam hanya bisa digapai jika kaum muslimin mengembalikan dan memperhatikan fungsi dan peran masjid seperti ketika zaman Rasulullah Shallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya. Adapun fungsi dan peran masjid itu adalah:

  1. Masjid merupakan pusat tempat ibadah serta pusat penegakan dan penyebaran syiar-syiar agama Islam.
  2. Masjid merupakan universitas ilmiah yang penuh dengan aktivitas pembelajaran dan pembinaan dalam halaqoh ilmiah.
  3. Masjid merupakan tempat awal bendera-bendara jihad berkibar.
  4. Masjid merupakan segalanya dalam kehidupan kaum muslimin.

Dengan melihat urgensi dan peran besar yang dimiliki masjid ini, maka kaum muslimin saat ini wajib mengambil dan memiliki peran memakmurkan masjid sesuai dengan potensi yang dimiliki masing-masing, dan tentu potensi yang paling besar adalah harta.
Dalam Surat At-Taubah Ayat 18 Allah berfirman:

“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.”

Dalam tafsir al-Wajiz, Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili menjelaskan bahwa memakmurkan masjid terbagi dua; zhahir dan batin. Zhahir berkaitan dengan fisik (seperti bersih dan nyaman), sedangkan batin berkaitan dengan dzikrullah dan syi’ar-syi’ar Islam (seperti azan, shalat Jum’at, dan shalat berjama’ah, membaca Al Qur’an, berdzikr, beribadah, dsb.) dan kegiatan keagamaan (seperti pengajian dan pendalaman agama).
Allah menyifati mereka dengan iman yang bermanfaat, mengerjakan amal saleh yang induknya adalah shalat dan zakat, dan memiliki rasa takut kepada Allah yang merupakan pangkal semua kebaikan. Karena rasa takut kepada Allah, mereka menjauhi yang dilarang-Nya dan memperhatikan hak-hak-Nya yang wajib. Mereka inilah yang pantas memakmurkannya. Adapun orang yang tidak beriman kepada Allah dan hari akhir, serta tidak memiliki rasa takut kepada Allah, maka mereka tidaklah pantas memakmurkan masjid-Nya meskipun mereka mengaku yang berhak memakmurkannya. Kata “mudah-mudahan” jika dari Allah berarti mesti.

Dan pada akhirnya, tidak bisa kita pungkiri bahwa salah satu penopang pengembalian peran dan fungsi masjid serta pemakmuran masjid ini adalah dengan harta kaum muslimin. Kesadaran akan potensi zakat, infaq dan sedekah ini yang harus disyiarkan dan digalakkan kembali bersama agar kejayaan dan kemulian Islam dapat diwujudkan dan diraih kembali melalui masjid.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Siapa yang membangun masjid karena Allah, maka Allah akan membangun baginya semisal itu di surga.” (HR. Bukhari no. 450 dan Muslim no. 533).
Wallahu ‘alam.

  • Ketua DKM al Jabbar Persada Banten.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *